Wednesday, September 30, 2015

Hanya Ilusi Kepalsuan



Puisi ini kutulis lantaran  melihat  dia
Ketika awan mega berarak di dada langit
Ketika aku menanti titisan hujan membasahi bumi
Tersurat  pertemuan yang tak terlintas  oleh fikirku
Lalu kocoretkan puisi yang  terbuku di kalbu

Masih kutatap langit berwajah kirmizi
Ketika engkau  menatap  langit lazuardi
Titis-titis hujan  mencurah ke bumi
Pandanglah titis-titis itu
Tatkala aku  sedang mengutip satu demi satu
bilah-bilah kenangan yang  sedang  membunuh
Kesakitan ,keperitan, penderitaan dan kemanisan tanpa gula

Masih  kusisip rindu yang bertamu di hujung hati
Menghirup makna  kekecewaan yang  menjenguk
Tabalkan aku menjadi suri di ladang cinta
Benihnya bercambah dari sebuah ilusi kepalsuan
Yang   terpateri pada garis masa lalu

Kusisip pertemuan ini biar sepahit hempedu
Agar mewangi menjadi secangkir  madu
Potretkan aku dalam  sejuring  kenanganmu
Biar pecah menjadi puing-puing berterbangan
Disapa  semilir yang berlagu pilu

Tiada pengertian lagi,
Walau izin berwali walau ijab bersaksi
Sesungguhnya,
Cinta itu tidak akan pernah kehilangan erti
Cinta itu tidak datang bersama kompromi
Lalu  aku meneguk  aroma galau
Terhukum  aku  di penjara kenyataan
Yang bersidang di mahkamah kehidupan

Pandanglah wajahku dari hati
Akan  terbuka hijab  oleh relung waktu
Yang tertutup oleh mata
Akan terlihat oleh hati .

Aku rela menjadi sebuah ilusi
Biar berkubur sebuah  makam tanpa nisan
Demi  engkau  menjadi realiti
Lantaran ada sesuatu sedang membunuh mimpi

No comments: