Followers

Sunday, November 29, 2015

DALAM DIAMKU


Dalam diam hati pun bertanya,
bilakah rindu akan hilang ditelan waktu

Telah kupinjam sebuah ilusi yang  hanyut dari lautan
Telah kuukir sebuah nama dengan jemari gementar
Untuk kuabadikan sebuah kisah
Dalam deburan ombak yang memecah akhirnya
memusnahkan citra cinta dan berganti sebuah derita 

Titisan air mata , 
sembunyi  di balik kegelapan  yang temaram
ingin hatiku abadaikan selamanya memori yang menghambat rindu
pilu bertamu di pantai hati walau puas kuusir lara pergi

Dalam diam hati pun bertanya,
bilakah rindu akan hilang ditelan waktu .     
    

Saturday, October 24, 2015

GORESAN LUKA SEMALAM



Bulan  yang  sedang  berdarah itu  sama seperti aku
Kiranya , sedang  menjahit luka pada setiap malam
Bagaimana mungkin menghilangkan luka ini
Kerana Tuhan telah menulisnya sejak azali
Duhai luka, puas kusuruh pergi
Duhai luka, puas kuhalau jauh

Resah  datang  bertamu dalam setiap matra
Menghuraikan luka tanpa jeda
Menulis semula satu demi satu kisah kisah luka yang masih berparut
Aku bukan insan yang pandai membenci
Aku bukan insan  yang pandai mencaci
Kemaafan itu dendam yang terindah
Lalu aku bersujud di atas sejadah
Memaafkan segala luka yang ditinggalkan
Memaafkan segala duka yang dileraikan

Cerita tanpa jeda ,
Masih berlari tanpa notasi
Sesungguhnya  kerinduan itu penderitaan yang paling indah
Mungkin kah karma sedang mengejar di alam fana
Atau
Mungkin saja aku berlari di tengah padang fata morgana
Demi mencari ruang-ruang katarsis yang terhijab dalam  radar  masa
Biarpun kesakitan itu sedang membunuh aku perlahan lahan                                        
  
Tidak ada hati akan patah dan rabak tanpa keizinan Tuhan,
Tidak ada rindu akan bertandang duduk tanpa gerak geri Tuhan
Tidak ada rasa yang tercipta tanpa kehendak Tuhan
Lalu, aku menghimpun segala kelukaan ini
Biar kujahit, biar kuanyam, biar kusulam
Biar  menjadi bilah-bilah kenangan yang sangat menyakitkan
Biar menjadi igauan hitam di alam mimpi

Kenapa selalu ada luka di antaranya
Sedang aku insan  yang telah rabak hatinya
Namun,
Takdir Tuhan tiada terduga oleh insan
Takdir  sedang menjelaskan rencananya
Yang tidak bisa ditelah oleh manusia

Waktu mempertemuka kita ke jalan  hampa
Waktu memepertemukan  kita ke lembah sengsara
Pulanglah wahai hati ,  pulanglah.
Semoga aku salah mengira percaturan  alam
Gema yang mengerang dalam diri
Gema yang meratap merakung dalam atma
Menjadikan aku lebih bijaksana
Menakluk kosmos daerah luka

Goresan luka yang kau tinggalkan
Biarpun parut tela kering
Bisanya tetap menggigit
Bau hanyir darah luka dan nanah
Berbaur dalam dilema rindu tak bertepi

 Bulan berdarah usahlah menjauh
Suluh cahaya buat diriku yang kegelapan
Bangunkan  aku wahai pawana  yang  berelus manja
Bangkitkan aku wahai semilir senja yang tidak jemu berpuput
Sedarkan aku wahai matahari  yang tak pernah  sirna

Aku tidak meminta rindu bertandang
Aku tidak mengundang resah bermusafir
Aku juga tidak mengundang luka bermukim
Dalam aku ada kamu
Dalam kamu ada aku

Mana mungkin aku membuang semua tentang dirimu
Mana mungkin melupakan semua dalam garis waktu
Kerna sebahagian dirimu adalah diriku
Kerna sebahagian kenangan luka itu adalah diri kita berdua.
Akan kusemat teguh ,
Biar menjadi sebuah makam tanpa nisan   
Tidak berkubur di bumi  namun bertanda di hati 

Friday, October 23, 2015

SELEMBUT METAFORA HATI - PUISI PRAMOEDYA ANANTA TOER




NO HEART IS BROKEN WITHOUT THE WILL OF ALLAH


  


Metafora Hati




Beberapa Kutipan dari Ws Rendra

"mencintaimu adalah bahagia & sedih;
bahagia karna memilikimu dalam kalbu;
sedih karena kita sering berpisah"
— W.S. Rendra
   

"Kemarin dan esok
adalah hari ini
bencana dan keberuntungan
sama saja
Langit di luar,
Langit di badan,
Bersatu dalam jiwa"
— W.S. Rendra
  
"Allah!
Betapa indahnya sepiring nasi panas
Semangkuk sup dan segelas kopi hitam"
— W.S. Rendra

Sunday, October 4, 2015

SEMBUNYI



Sembunyi
dari  senyuman  memutik  persahabatan
dari kata- kata  mengakhiri  pertelingkahan
dari redup  pandang terlakar  pertalian


Sembunyi.
perasaan itu indah sekali
biarpun sangat menyakitkan...

Sembunyi
perasaan itu tenang
biarpun sangat menyiksakan

Sembunyi
perasaan itu aman
biarpun hati merasa galau

Sembunyi
perasaan itu bukan dirancang
biarpun datang sebagai ujian

Sembunyi
perasaan itu satu kenangan terindah
biarpun menggores sebuah  kelukaan.

Sembunyi,
rindu dan sayang
menjadi penderitaan terindah

Sembunyi,
tanpa sedar,
Seseorang telah  datang lalu mengubah sebuah  kehidupan.


Friday, October 2, 2015

Dalam Tangisan Oktober !




 Bahagian I –  Prolog 

Ketika Oktober datang dulu,
Hadir  bersama sejuta rasa
Hadir bersama tawa dan bahagia
Hadir bersama  keindahan yang tidak tergambar

Ketika Oktober datang dulu,
Berkirim salam bahagia dalam pawana yang berlagu
Menjadi pamitan rakan dan teman
Meniti di bibir lantunan bicara
Seindah bunga yang  mewangi di taman kasih sayang

Bahagian II – Monolog Duka

Kini, Oktober menjenguk kembali
Pamit bersama sejuta wajah kesal
Bersama debur ombak memecah pintu hati
Mengintai  jendela hati yang dilanda kebobrokan
Pamit  bersama tangan-tangan dari neraka
Yang mencakar seantero daerah rasa .

Kini Oktober tiba lagi ,
Tiada apa yang boleh dibanggakan
Tiada senyuman dapat digariskan
Tiada rasa yang boleh dipanjatkan
Lantaran sebuah penyesalan yang tidak berpenghujung
Sedikit demi sedikit  kian menggigit  dinding rasa
Menghukum atma dan jiwa dalam matra tidak bernoktah 

Bahagian III-  Epilog 
 
Pada setiap kali kau tiba, Oktober ! 
Tanpa notasi,
Aku pantas terpundak di sini
Bersama sepi,
Bersama duka,
Bersama luka
Bersama garis  masa  dalam arus fata morgana

Pada Oktober ini,
Serelung hati telah menjadi gering
Tidak terpujuk dengan bahasa
Tidak terbangkit dengan bicara 
Hanya air mata menjadi teman setia 
Lalu  terdengar  kalbu berbisik
Hati mati ! hati mati !

Lewat Pertemuan itu



Lewat pertemuan itu,
Kususuli  lembar demi lembar
Biarpun alur waktu menginjak pergi
Bersama detik yang engkau tinggalkan

Lewat pertemuan itu,
Kuingin berterima kasih
Dengan wangi setanggi  yang mengapung
Dengan matra dupa setia mengelus lembut
Dalam jarring kehidupan ini

Lewat pertemuan itu,
Ketika kau melangkah pergi
Membawa bersama seluruh perasaan
Yang kian membeku bersama waktu

Lewat pertemuan itu,
Kau tinggalkan harumanmu
Sedang aku terpukul di dada kenyataan
Sedang menghimpun kekuatan tenaga raksasa
Sedang mengumpul himpunan doa dan restu
Lantaran sebuah sumpah setia
Bahawa
Rindu itu bukan milik kita

Lewat pertemuan itu,
Aku meracip bilah-bilah kenangan
Yang bersepai dalam arus masa ini
Sumpah!
Sejujurnya!
Aku merindui segala-galanya tentang dia
Perasaan yang menderu itu terlalu indah
Bagaikan semilir senja berlagu rindu

Lewat pertemuan itu
Tanpa bahasa, bicara dan kata-kata
Telah tertulis di azali
Engkau hadir sebagai ujian
Walau   rindu berkalang noda .