Saturday, October 24, 2015

GORESAN LUKA SEMALAM



Bulan  yang  sedang  berdarah itu  sama seperti aku
Kiranya , sedang  menjahit luka pada setiap malam
Bagaimana mungkin menghilangkan luka ini
Kerana Tuhan telah menulisnya sejak azali
Duhai luka, puas kusuruh pergi
Duhai luka, puas kuhalau jauh

Resah  datang  bertamu dalam setiap matra
Menghuraikan luka tanpa jeda
Menulis semula satu demi satu kisah kisah luka yang masih berparut
Aku bukan insan yang pandai membenci
Aku bukan insan  yang pandai mencaci
Kemaafan itu dendam yang terindah
Lalu aku bersujud di atas sejadah
Memaafkan segala luka yang ditinggalkan
Memaafkan segala duka yang dileraikan

Cerita tanpa jeda ,
Masih berlari tanpa notasi
Sesungguhnya  kerinduan itu penderitaan yang paling indah
Mungkin kah karma sedang mengejar di alam fana
Atau
Mungkin saja aku berlari di tengah padang fata morgana
Demi mencari ruang-ruang katarsis yang terhijab dalam  radar  masa
Biarpun kesakitan itu sedang membunuh aku perlahan lahan                                        
  
Tidak ada hati akan patah dan rabak tanpa keizinan Tuhan,
Tidak ada rindu akan bertandang duduk tanpa gerak geri Tuhan
Tidak ada rasa yang tercipta tanpa kehendak Tuhan
Lalu, aku menghimpun segala kelukaan ini
Biar kujahit, biar kuanyam, biar kusulam
Biar  menjadi bilah-bilah kenangan yang sangat menyakitkan
Biar menjadi igauan hitam di alam mimpi

Kenapa selalu ada luka di antaranya
Sedang aku insan  yang telah rabak hatinya
Namun,
Takdir Tuhan tiada terduga oleh insan
Takdir  sedang menjelaskan rencananya
Yang tidak bisa ditelah oleh manusia

Waktu mempertemuka kita ke jalan  hampa
Waktu memepertemukan  kita ke lembah sengsara
Pulanglah wahai hati ,  pulanglah.
Semoga aku salah mengira percaturan  alam
Gema yang mengerang dalam diri
Gema yang meratap merakung dalam atma
Menjadikan aku lebih bijaksana
Menakluk kosmos daerah luka

Goresan luka yang kau tinggalkan
Biarpun parut tela kering
Bisanya tetap menggigit
Bau hanyir darah luka dan nanah
Berbaur dalam dilema rindu tak bertepi

 Bulan berdarah usahlah menjauh
Suluh cahaya buat diriku yang kegelapan
Bangunkan  aku wahai pawana  yang  berelus manja
Bangkitkan aku wahai semilir senja yang tidak jemu berpuput
Sedarkan aku wahai matahari  yang tak pernah  sirna

Aku tidak meminta rindu bertandang
Aku tidak mengundang resah bermusafir
Aku juga tidak mengundang luka bermukim
Dalam aku ada kamu
Dalam kamu ada aku

Mana mungkin aku membuang semua tentang dirimu
Mana mungkin melupakan semua dalam garis waktu
Kerna sebahagian dirimu adalah diriku
Kerna sebahagian kenangan luka itu adalah diri kita berdua.
Akan kusemat teguh ,
Biar menjadi sebuah makam tanpa nisan   
Tidak berkubur di bumi  namun bertanda di hati 

No comments: