Bulan yang sedang berdarah itu
sama seperti aku
Kiranya , sedang menjahit luka pada setiap malam
Bagaimana mungkin
menghilangkan luka ini
Kerana Tuhan
telah menulisnya sejak azali
Duhai luka,
puas kusuruh pergi
Duhai luka,
puas kuhalau jauh
Resah datang bertamu dalam setiap matra
Menghuraikan
luka tanpa jeda
Menulis semula
satu demi satu kisah kisah luka yang masih berparut
Aku bukan insan
yang pandai membenci
Aku bukan insan
yang pandai mencaci
Kemaafan
itu dendam yang terindah
Lalu aku
bersujud di atas sejadah
Memaafkan segala
luka yang ditinggalkan
Memaafkan segala
duka yang dileraikan
Cerita
tanpa jeda ,
Masih berlari
tanpa notasi
Sesungguhnya
kerinduan itu penderitaan yang paling
indah
Mungkin kah
karma sedang mengejar di alam fana
Atau
Mungkin saja
aku berlari di tengah padang fata morgana
Demi mencari
ruang-ruang katarsis yang terhijab dalam
radar masa
Biarpun
kesakitan itu sedang membunuh aku perlahan lahan
Tidak ada
hati akan patah dan rabak tanpa keizinan Tuhan,
Tidak ada rindu akan bertandang duduk tanpa gerak geri Tuhan
Tidak ada
rasa yang tercipta tanpa kehendak Tuhan
Lalu, aku
menghimpun segala kelukaan ini
Biar kujahit,
biar kuanyam, biar kusulam
Biar menjadi bilah-bilah kenangan yang sangat
menyakitkan
Biar menjadi
igauan hitam di alam mimpi
Kenapa
selalu ada luka di antaranya
Sedang aku insan
yang telah rabak hatinya
Namun,
Takdir
Tuhan tiada terduga oleh insan
Takdir
sedang menjelaskan rencananya
Yang tidak
bisa ditelah oleh manusia
Waktu
mempertemuka kita ke jalan hampa
Waktu
memepertemukan kita ke lembah sengsara
Pulanglah
wahai hati , pulanglah.
Semoga aku
salah mengira percaturan alam
Gema yang
mengerang dalam diri
Gema yang
meratap merakung dalam atma
Menjadikan aku
lebih bijaksana
Menakluk kosmos
daerah luka
Goresan
luka yang kau tinggalkan
Biarpun parut
tela kering
Bisanya tetap
menggigit
Bau hanyir
darah luka dan nanah
Berbaur dalam
dilema rindu tak bertepi
Bulan
berdarah usahlah menjauh
Suluh cahaya
buat diriku yang kegelapan
Bangunkan aku wahai pawana yang
berelus manja
Bangkitkan
aku wahai semilir senja yang tidak jemu berpuput
Sedarkan
aku wahai matahari yang tak pernah sirna
Aku tidak
meminta rindu bertandang
Aku tidak
mengundang resah bermusafir
Aku juga
tidak mengundang luka bermukim
Dalam aku
ada kamu
Dalam kamu
ada aku
Mana
mungkin aku membuang semua tentang dirimu
Mana
mungkin melupakan semua dalam garis waktu
Kerna sebahagian
dirimu adalah diriku
Kerna
sebahagian kenangan luka itu adalah diri kita berdua.
Akan kusemat teguh ,
Biar menjadi sebuah makam tanpa nisan
Tidak berkubur di bumi namun bertanda di hati
Tidak berkubur di bumi namun bertanda di hati
No comments:
Post a Comment